KLIKAMPUS – Pontianak, Aliansi Media Siber Indonesia (AMSI) Kalimantan Barat menggelar Borneo Intra-Regional Dialogue 2025 bertajuk “Epicentrum of Economic Growth in Indonesia’s Sub-Regions” di Pendopo Gubernur Kalbar, Kamis 30 Oktober 2025. Forum ini menjadi ruang strategis bagi para pemangku kepentingan untuk membahas arah pertumbuhan ekonomi kawasan Kalimantan, khususnya peran konektivitas dan investasi dalam memperkuat perekonomian daerah.
Wali Kota Pontianak, Edi Rusdi Kamtono, dalam kesempatan tersebut menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Kota Pontianak saat ini berada di atas angka 5,03 persen, sejajar dengan kota-kota besar lainnya di Indonesia. Menurutnya, kunci keberhasilan menjaga stabilitas ekonomi terletak pada kemudahan perizinan serta sinergi investasi lintas wilayah.
Baca Juga: Kolaborasi Sosiologi FISIP Untan dan UIN Jakarta Hidupkan Kesadaran Green Islam di Kalbar
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Jika investasi dari kabupaten penyangga seperti Mempawah dan Kubu Raya meningkat, maka dampaknya akan langsung terasa pada ekonomi Kota Pontianak. Pemerintah Kota terus berupaya mempercepat kemudahan perizinan agar investasi dapat tumbuh lebih cepat,” ungkap Edi.
Ia juga menegaskan pentingnya percepatan pembangunan jalan tol yang menghubungkan Pelabuhan Dwikora dengan Pelabuhan Kijing, sebagai upaya memperlancar arus logistik dan menekan biaya distribusi. “Ketika jalur konektivitas ini terwujud, arus angkutan barang akan semakin cepat dan efisien, mendukung pertumbuhan ekonomi wilayah,” tambahnya.
Baca Juga: 1.264KK di Pontianak Utara dan Timur Terima Bantuan Beras
Sementara itu, Dr. Muhammad Fahmi, SE., MM. Ak., Ketua Rusunawa Asrama Karakter dan Kewirausahaan Universitas Tanjungpura, menuturkan bahwa Untan telah melakukan kajian serta memberikan rekomendasi terkait penguatan konektivitas ekonomi Kalbar.
“Salah satu poin penting adalah perlunya pembangunan jalan tol dari Pelabuhan Dwikora ke Pelabuhan Kijing. Selain itu, kita juga perlu memikirkan mekanisme pemindahan kontainer ke kawasan pelabuhan baru tersebut, karena aktivitas logistik tidak hanya dikelola oleh Pelindo, tetapi juga pihak swasta. Saat ini sekitar 70 persen kontainer berasal dari Pontianak dan Kubu Raya, yang berdampak langsung terhadap biaya angkut,” jelasnya.
Fahmi menegaskan, diperlukan dorongan kuat dari berbagai pihak agar pembangunan infrastruktur dan konektivitas terus berjalan, demi memperkuat pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat, terutama Kota Pontianak sebagai pusat aktivitas ekonomi regional.
Penulis : Ian













