KLIKAMPUS – Pontianak, Ditengah tantangan ekonomi yang masih lesu, pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) Kalimantan Barat kembali menunjukkan semangat baru melalui penyelenggaraan Borneo Fair 2025, yang resmi dibuka pada Selasa kemarin dan akan berlangsung selama sepuluh hari ke depan di kawasan GOR Terpadu Pontianak.
Event berskala besar ini melibatkan lebih dari 400 UMKM dari berbagai sektor, mulai dari kuliner, kriya, fashion, hingga ekonomi kreatif, yang menampilkan beragam produk unggulan daerah. Kehadiran Borneo Fair menjadi harapan baru bagi pelaku UMKM untuk kembali bangkit di tengah perlambatan ekonomi.
Kepala Dinas Kepemudaan, Pariwisata, dan Olahraga (Disparpora) Kalbar, Windy Prihastari, mewakili Gubernur Kalbar Ria Norsan saat membuka kegiatan, mengapresiasi langkah pihak swasta, khususnya Firmans Grup, yang telah berinisiatif menyelenggarakan Borneo Fair 2025.
ADVERTISEMENT

SCROLL TO RESUME CONTENT
“Kita berterima kasih atas inisiatif dari pihak swasta, yakni Firmans Grup, yang menyelenggarakan Borneo Fair. Pemprov Kalbar tidak bisa sendiri melaksanakan event-event besar. Inilah bentuk kolaborasi positif untuk memperkenalkan dan memajukan UMKM,” ujar Windy, Kamis 13 November 2025.
Ia menambahkan, Borneo Fair menampilkan banyak potensi ekonomi kreatif dan kuliner yang menjadi daya tarik masyarakat. Melihat antusiasme peserta dan pengunjung, Windy memastikan bahwa Borneo Fair akan diusulkan menjadi agenda tahunan resmi Pemerintah Provinsi Kalbar, dengan melibatkan seluruh kabupaten/kota serta negara tetangga seperti Malaysia dan Brunei Darussalam.
“Kami mengusulkan agar Borneo Fair menjadi event tetap Provinsi Kalbar setiap tahunnya, dengan menggandeng seluruh daerah di Kalimantan Barat,” tambahnya.
Sementara itu, CEO Firmans Grup, Hendra Firmansyah, mengungkapkan bahwa ide penyelenggaraan Borneo Fair berawal dari keinginannya untuk menghadirkan kembali semangat Pekan Raya Pontianak (PRP) yang pernah populer di masa lalu.
“Saya ingin bernostalgia dengan PRP yang dulu sangat meriah. Namun visi kami kini adalah membangkitkan kembali semangat UMKM agar bisa terangkat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang sedang menurun. Semoga Borneo Fair menjadi darah segar bagi pelaku UMKM,” tuturnya.
Dari total 400 tenant yang berpartisipasi, sekitar 70 persen diisi oleh pelaku UMKM dan 30 persen oleh generasi muda yang menampilkan kegiatan seni, hiburan, dan ekonomi kreatif, termasuk konser musik selama sepuluh hari penyelenggaraan.
Hendra menargetkan transaksi di Borneo Fair 2025 mencapai Rp50 miliar, dengan perkiraan jumlah pengunjung rata-rata 20 ribu orang per hari.
“Ke depan, kami berencana memperpanjang durasi Borneo Fair hingga satu bulan dan menghadirkan hingga 1.500 tenant dari berbagai sektor,” ungkapnya optimistis.
Dengan kolaborasi antara pemerintah dan pihak swasta, Borneo Fair 2025 diharapkan menjadi momentum kebangkitan ekonomi rakyat dan wadah promosi produk-produk unggulan Kalimantan Barat di kancah nasional maupun regional.
Editor : ian













